[Senin, 18 Mei 2020] dengan menggunakan aplikasi Google Meet, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIDHA melaksanakan Diskusi Nasional dengan tema “Potret Pariwisata Nasional dalam Masa Krisis Covid-19” dengan narasumber sebagai berikut: 1) H. Mahyeldi Ansharullah, SP (Walikota Padang); 2) Dr. Sari Lenggogeni (Direktur Tourism Development Center – Universitas Andalas). Bertindak sebagai moderator dalam Diskusi Nasional ini yaitu Ibu Eka Mariyanti, SE, MM (prodi S1 Manajemen).Diskusi Nasional LPPM UNIDHA

Diskusi Nasional LPPM UNIDHA

Tepat pukul 09.00 Webinar perdana ini dimulai dan dibuka langsung oleh Rektor UNIDHA Bapak Prof. Dr. Deddi Prima Putra, Apt. Meski dengan kuota peserta yang terbatas, audiens yang tidak berkesempatan menjadi peserta dapat menyimak diskusi nasional ini melalui live streaming Youtube. Pemateri pertama Direktur Tourism Development Center (TDC) UNAND Ibu Dr. Sari Lenggogeni menyampaikan materi dengan judul “Covid-19 dan Turbulensi Sektor Pariwisata”. Menurut beliau, Pariwisata merupakan suatu ekosistem. Hubungan usaha besar dan usaha kecil sangat luar biasa dan tidak bisa dipisahkan satu persatu. Pariwisata rentan terhadap krisis dan bencana.

Tepat pukul 09.00 Webinar perdana ini dimulai dan dibuka langsung oleh Rektor UNIDHA Bapak Prof. Dr. Deddi Prima Putra, Apt. Meski dengan kuota peserta yang terbatas, audiens yang tidak berkesempatan menjadi peserta dapat menyimak diskusi nasional ini melalui live streaming Youtube. Pemateri pertama Direktur Tourism Development Center (TDC) UNAND Ibu Dr. Sari Lenggogeni menyampaikan materi dengan judul “Covid-19 dan Turbulensi Sektor Pariwisata”. Menurut beliau, Pariwisata merupakan suatu ekosistem. Hubungan usaha besar dan usaha kecil sangat luar biasa dan tidak bisa dipisahkan satu persatu. Pariwisata rentan terhadap krisis dan bencana.

download

Menurut UNWTO (2020), Ramalan Kedatangan Turis Internasional Tahun 2020 mengakibatkan kehancuran pariwisata yang cukup besar yang disebabkan oleh Covid-19. Wisatawan mengalami krisis kepercayaan untuk melakukan kunjungan terhadap suatu negara. Jika ditinjau dari Kerangka Manajemen Kebencanaan Saat ini, Provinsi Sumbar berada pada kondisi antara Prodromal Phase dan Emergency Phase. Dampak Pariwisata yang sangat dirasakan saat ini adalah tour guide, restoran hingga perhotelan. Hambatan dari kasus Covid-19 ini mencakup : (1) uncertainty (2) vaksin (3) imported case (4) country Covid-19 mitigation image (5) red zone country / cities image.Rektor UNIDHA

Kata Sambutan oleh Rektor UNIDHA

Kemudian, berdasarkan hasil riset – survey beliau pada pertengahan PSBB menunjukkan kecenderungan perjalanan terakhir wisatawan Sumbar ke luar provinsi Sumbar menurun semenjak issue Covid-19 global diumumkan dan sebelum kasus pertama di Indonesia ditemukan (2 Maret 2020). Sekitar 65.9% perjalanan terakhir wisatawan dari Sumbar ke luar provinsi dilakukan tahun 2019. Lalu, sekitar 96.1% perjalanan wisata lokal (dalam provinsi Sumbar / terakhir dilakukan sebelum pemberlakuan PSBB).Dr. Sari Lenggogeni

Pemateri I yaitu Direktur TDC UNAND

Selanjutnya, emosi wisatawan di PSBB ke II ini sekitar 98% merasakan waspada dan 90% merasakan kebosanan. Jika ditinjau dari keinginan perjalanan wisata mendatang diperoleh hasil sebanyak 73% responden punya keinginan berwisata ke luar Sumbar tapi tidak yakin akan berwisata pada pertengahan 2020 atau prediksi fase new normal. Namun, keinginan berwisata di dalam Sumbar lebih tinggi daripada ke luar Sumbar dalam fase new normal.Bapak Walikota Padang

Pemateri II yaitu Bapak Walikota Padang

Pemateri kedua yakni Bapak Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, SP menyampaikan materi dengan judul “Potret tentang Dampak Pariwisata di Kota Padang”. Dampak Pariwisata yang dialami Kota Padang mengalami 3 tahapan.

  1. Tahap I yakni Tahap Tanggap Darurat (Pandemik Covid-19). Pada tahapan ini terjadi refocusing (realokasi anggaran dan rescheduling pelaksanaan kegiatan); penutupan / pembatasan operasional destinasi dan industri pariwisata dengan pengawasan (hiburan, rekreasi, dan jasa pariwisata lainnya); pendataan dampak dan sosialisasi terhadap usaha industri dan ekraf pariwisata (Jumlah Wisatawan, OCC-Occupancy, ARR-Average Room Rate, Rev PAR Revenue Per Available Room, Worker); ekonomi (keringanan pajak hotel / restoran, regulasi protokol Covid-19, PSBB, penyediaan akomodasi hotel / konsumsi dan transportasi petugas Covid-19 serta tenaga kerja).
  2. Tahap II yakni Tahap Pemulihan (Setelah Pandemik Covid-19 dinyatakan selesai). Pada tahapan ini terjadi rehabilitasi pemeliharaan (Infrastruktur Amenitas Pariwisata – 3A), Revitalisasi Penguatan pada (Atraksi, Destinasi, Usaha Industri Pariwisata), Promosi (Event, Voucher-Discount, Stimulus Tourist /Travel & Tour Guide)
  3. Tahap III yakni Tahap Normalisasi (Fungsional Kondisi Stabil). Pada tahapan ini terjadi Sustainable Tourism Sinergisitas antar sektor dan dukungan Stakeholder Pariwisata.
WhatsApp Image 2020-05-18 at 6.08.47 PM

Selanjutnya, beliau juga menyampaikan bahwa dilihat dari indikator krisis usaha dan industri pariwisata terdapat isu-isu seperti kesehatan, lingkungan hidup, ekonomi, sosial, budaya, politik dan keamanan. Oleh sebab itu, hal mendasar yang perlu dilakukan yakni pencegahan penurunan citra pariwisata dan pencegahan penurunan / pembatalan kunjungan wisatawan. Kemudian, tahapan krisis dan strategi penanganan dilakukan dengan fokus pada pemantauan dan penanganan informasi yang menciptakan sentimen negatif terhadap citra pariwisata dan fokus pada tindakan-tindakan kehumasan dalam konteks komunikasi krisis untuk memperbaiki citra pariwisata.

unnamed

Dampak pandemi Covid-19 terhadap usaha dan industri pariwisata meliputi:

  1. Trend berkurangnya permintaan ticketing dan aktivitas perjalanan wisata hingga saat ini mencapai lebih dari 90% berdasarkan konfirmasi dari beberapa travel agen di Kota Padang.
  2. Tingkat kunjungan wisatawan dan okupansi hotel turun sangat signifikan. Laporan PHRI dimulai tanggal 16 Maret 2020 okupansi hotel 60-70% dan hingga saat ini okupansi hotel anjlok mencapai 15-20%.
  3. Berkurangnya rata-rata omset pelaku usaha dan industri pariwisata cafe/restoran/kuliner dan ekraf lainnya lebih dari 75%.
  4. Beberapa langkah efisiensi operasional sudah dilakukan oleh para pelaku usaha industri pariwisata dan diperkirakan bertahan sampai 6 (enam) bulan kedepan, jika tidak ada perubahan kearah yang lebih baik seperti kondisi semula/normal.
11-Tempat-Wisata-di-Padang-Paling-Populer-yang-Wajib-Dikunjungi-

Terakhir, beliau menyampaikan langkah-langkah yang dilakukan pada saat ini dan masa yang akan datang mencakup:

  1. Melakukan promosi dalam bentuk virtual/digital destination
  2. Bantuan modal usaha untuk pedagang terdampak melalui Dinas Koperasi / UKM dan Dinas Sosial
  3. Pembenahan destinasi wisata dan pengawasan sesuai protokol kesehatan
images

Antusiasme peserta cukup tinggi dalam kegiatan ini. Hal ini terlihat dari peserta yang mengikuti kegiatan ini baik dari kalangan:

  1. Instansi (Dinas Pariwisata, Bapelitbang, Bank Nagari, BNI, TDC Unand, Badan Pusat Statistik)
  2. Perwakilan Nagari yang ada di Prov. Sumbar
  3. Asosiasi (ASITA, PHRI, Hotel Grand Zuri, Nikopi Project, Pelaku Usaha)
  4. Akademisi dari berbagai Universitas yang ada di Indonesia (44 Institusi) dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa, hingga Pulau Sulawesi.